Rabuku: Shalihah Mom's Dairy



Judul Buku: Shalihah Mom's Dairy
Pengarang Buku: Dewi Nur Aisyah dan MommeeID
Penerbit Buku: Ikon
Kota Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2018
Tebal Buku: 273 halaman



Saya tahu tentang Mba Dewi ini dari Instagram. Tepatnya, dari Instastory seorang teman. Dengan cepat saya kagum kepada beliau dan tanpa ragu mengikuti instagramnya. Serta, membeli buku pertamanya yang berjudul Awe-Inspiring Me.

Begitu terkesima dengan buku pertamanya, saat tahu Mba Dewi menerbitkan buku lainnya, saya langsung beli. 

Entah mengapa, buku yang saya beli tahun 2018 ini seolah tak menarik untuk segera dibaca. Mungkin, karena kala itu saya masih sendiri. Sehingga, merasa belum butuh-butuh banget untuk membaca perihal keibuan.

Pekan lalu, akhirnya saya memilih buku ini untuk dibaca. Qadarullah, timing-nya Allah memang tidak pernah meleset. Tepat setahun tiga bulan kami menikah, dan lagi-lagi saya kembali menstruasi.

Remuk. Patah hati. Sudah sebegitu rindu untuk menjadi ibu. 

Dalam kesedihan, saya mulai membaca lembar demi lembar setiap cerita yang ada dalam antologi Shalihah Mom's Dairy.

Ada cerita yang menggugah, ada yang mengharu biru, ada yang membuat saya tertawa karena kisah lucu dibalut dengan diksi yang juga jenaka.

Buku ini mengisahakan pengalaman hidup para ibu yang tergabung dalam komunitas MommeeID. 

Mba Dewi sendiri mengisahkan beberapa cerita Najwa-anak pertamanya dalam beberapa bagian.

Kisah-kisah dalam buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama: Mengukur Kelahiranmu. Berisi kisah hamil dan melahirkan.

Ada kisah Mba Dewi saat melahirkan di perantauan. Ada kisah ibu yang berjuang 39 jam untuk melahirkan, ada kisah ibu dengan anak yang terlahir istimewa serta kisah seorang ibu mengatasi anak yang kolik.

Bagian kedua: Lalu, Kau Pun Tumbuh. Mengisahkan perjuangan pascamelahirkan. Mulai dari menyusui, mendidik anak hingga mengelola emosi ibu.

Pada bagian kedua ini diawali dengan ibu yang membuat jurnal stress untuk mengurai emosi-emosinya, ada ibu yang berkisah bagaimana akhirnya berhasil sleep training. Pada bagian ini juga banyak kisah ibu dalam mengatasi emosinya.

Ditulis dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami membuat buku ini begitu asyik dibaca dalam sekali duduk. Buku ini, berhasil menjadi pelipur lara. Penyemangat saya sang pejuang garis dua. 

Ada satu kisah yang begitu menggugah saya. Membangkitkan motivasi yang sudah berkeping diawal hari. Kisah bertajuk Balada Tiga Batita. Pengalaman dari Mba Ika Ermawati. 

Beliau dikaruniai anak setelah tiga tahun pernikahan. Setelah hamil anak pertama, satu tahun tiga bulan kemudian lahir anak kedua. Saat anak kedua berusia satu tahun tujuh bulan, sudah lahir anak ketiga.

Masyaallah... Tabarakallah... Memang jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang bisa menolak.

Ada perempuan yang diberi anak cepat, dan ia perlu bersyukur. Ada perempuan, seperti saya yang kerap menunggu kabar baik itu, untuk bersabar.

Kepada para ibu yang membaca rangkuman buku ini,  saya ucapkan selamat dan semangat. Kalian adalah yang terbaik untuk anak-anak kalian. 

Bagi teman-teman yang masih berjuang, semoga Allah kuatkan kita dalam masa penantian.  

1 komentar:

  1. MasyaAllah.. jazakillah review bukunya mba, selalu ada hikmah dari kisah yg disampaikan org lain yaa

    BalasHapus

Pages