Rabuku: Muhasabah Cinta Menghadirkan Syurga dalam Rumah Tangga

 

RABUKU:

MUHASABAH CINTA MENGHADIRKAN SYURGA DALAM RUMAH TANGGA

Identitas Buku

Judul Buku: Muhasabah Cinta
Pengarang Buku: Halimah Alaydrus
Penerbit Buku: Wafa Production
Kota Terbit: -
Tahun Terbit: 1436 H
Tebal Buku:140 halaman


Buku ini saya beli sekitar tahun 2018. Sudah berkali-kali dibaca. Bahkan, menjelang menikah saya bawa kemana-mana sebagai suplemen bacaan saat ada waktu luang. Setelah setahun lebih pernikahan, saya memutuskan untuk kembali membacanya. Semacam check in, memeriksa kembali apa-apa yang mungkin bisa menambah kebaikan dalam rumah tangga kami. 

Buku ini ditulis oleh Ustadzah Halimah Alaydrus teruntuk keponakannya, Khadijah. Baper ya, Mak. Mau nikah dibuatkan buku panduan. Beruntung sekali dia. Eits, kabar baiknya buku ini dijual untuk umum. Jadi, siapapun yang sedang dalam masa penantian, pengantin baru, yang sudah lama menikah atau untuk yang kembali sendiri bisa mendapatkan manfaat yang sama dari buku ini. 

Buku ini berisi tahapan bagaimana pernikahan dalam islam secara umum, nasehat-nasehat pernikahan dan kisah-kisah pernikahan terdahulu. Cocok dibaca baik perempuan maupun laki-laki. Jadi kado pernikahan teman atau keluarga juga bisa nih Mak. Saya sangat merekomendasikannya.

Ustadzah Halimah begitu piawai dalam merangkai kata. Dengan sederhana, namun begitu mengena. Seperti yang tertulis pada halaman 41 buku ini:

Lelaki yang menikahimu tidaklah sempurna seperti nabi Muhammad SAW, tidak pula ia sehebat Ali sang sahabat dan menantu Nabi kita. Tapi, bukankah engkau pun tidak setabah Khadijah istri Nabi, yang bahkan bisa berkorban segala yang dimilikinya untuk sang suami? Bukankah engkau pun bukan Fatimah, istri Ali, pemilik jiwa terpuji?


Bagi saya ini merupakan salah satu nasihat pernikahan terbaik yang pernah saya baca. Yang membawa saya kembali untuk terus memastikan kewajiban saya telah terpenuhi sebelum menuntut hak kepada suami.

 

Pada bagian Seuntai Mutiara Cinta Untuk Pengantin, nasehat pernikahan yang dituliskan Ustadzah Halimah untuk sahabatnya, beliau menjelaskan mengenai makna menempuh hidup baru. Yang mana rasanya ingin sekali saya tulis ulang di sini semuanya. 


Ustadzah mengingatkan para pengantin baru, untuk memiliki "mata, telinga dan lisan yang baru" dengan pemaknaan yang begitu mendalam. Agar kita dapat menerima pasangan sepaket dengan kebaikan dan kekurangannya. 


Lalu, Ustadzah Halimah juga membahas perihal "Engkau adalah pakaian bagi pasanganmu" dengan mengkiaskan fungsi pakaian dan pernikahan:

  • Sebagai penutup aurat: menutup aib keluarga.
  • Sebagai penambal kekurangan: baik suami dan istri memiliki kekurangan masing-masing. Kelebihan masing-masing pula yang menutupi kekurangan satu sama lain.
  • Sebagai pemberi kenyamanan: kala pasangan berbicara maka didengarkan. Saat membutuhkan dukungan maka menguatkan.
  • Sebagai kemuliaan: baik dunai maupun akhirat.

Sudahkah engkau menjalankan fungsi pakaian dengan sebaik-baiknya bagi pasanganmu? Tanya Ustadzah menutup pembahasan pada bab tersebut. Jleb banget pertanyaan ini. Speechless. Kembali berkaca, melihat diri sendiri. Sudahkah fungsi itu terwakili dalam pernikahan kami? 

Sangat banyak nasehat baik dalam buku ini yang saya harapkan dapat dibaca oleh para singlelillah. Karena sejatinya menikah bukan hanya perihal ke-uwu-an yang dipajang di sosial media. Sejatinya ini adalah ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia yang mampu mengantarnya ke surga atau berakhir di neraka.

Menutup tulisan ini saya cantumkan kutipan favorit lainnya dari buku ini, yang tertera pada halaman 127:
Puteriku, jadilah bumi tempat kembali baginya, dia akan menjadi langit tempat berteduhmu. Jadilah hamparan tempatna merasa nyaman, dia akan menjadi tiang tempatmu berpegang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages