Produktif dengan Bullet Journal



Produktif dengan Bullet Journal


Saya punya cerita panjang dengan yang namanya agenda. Di mana saya mencatat hal-hal penting mulai dari apa yang harus dikerjakan hari ini sampai kegiatan di bulan-bulan berikutnya. Biasanya saya lakukan ini pagi hari sebelum saya melakukan aktivitas. Bahkan, saat menjadi ibu rumah tangga seperti sekarang masih saya lakukan.

Dulu saya mencatat manual to do list di buku agenda. Kemana-mana saya bawa bukunya. Seiring berjalannya waktu, saya butuh yang lebih fleksibel jika dibawa. Jadi, yang sebelumnya buku berukuran A5 saya ganti dengan buku catatan kecil. Seperempatnya dari A5. 

Seiring berjalannya waktu, saya membutuhkan yang lebih praktis lagi. Karena terkadang sulit untuk mencatat manual. Hingga, setelah memiliki smartphone, aktivitas menulis to do list ini berlangsung secara digital. 

Pengalaman dengan smartphone ini juga beragam. Mulai dari menggunakan Google Calender. Di mana pada akhirnya tidak sesuai dengan kebutuhan saya. Karena, to do list yang saya butuhkan tidak bisa terpenuhi. Hanya penjadwalan kegiatan saja yang sampai sekarang saya lakukan melalui Google Calender.

Saya juga mencoba beberapa aplikasi lain yang ada di apps store. Yang paling stand out diantaranya Microsoft To Do, Google Task, Any.Do, Trello dan Asana. 

Dari kelima aplikasi tersebut, Trello yang cukup berkesan dan saya gunakan cukup lama. Terutama ketika saya masih bekerja dibagian event organizer. Di Trello ini, saya bisa mensinkronkan kegiatan saya dengan Google Calender. Selain itu, Trello juga memiliki bagian yang disebut Card, di mana pada bagian ini saya gunakan untuk membagi to do list per kegiatan. Contohnya seperti gambar di bawah ini. 

Review jujur untuk teman-teman yang memang running banyak project dan butuh platform yang bisa digunakan bersama dan online, Trello bisa jadi pilihan.


Setelah tidak lagi bekerja, saya tidak terlalu membutuhkan Trello untuk membantu saya mengatur aktivitas. Terutama karena kegiatan saya berkurang drastis. Urus-urus rumah jadi nggak perlu Trello-an. Hihihihi....

Mencoba Bullet Journal

Beberapa bulan berlalu, saya mulai membangun aktivitas baru dan saya kembali memerlukan "to do list". Awalnya saya sempat kembali menggunakan Trello. Tapi, setelah dijalani saya merasa terlalu berlebihan. Hahaha... Kalau dulu pakai Trello karena memang butuh juga yang dapat dikolaborasikan dengan orang lain, kan sekarang hanya sendirian. Kebutuhannya berubah. Saya lebih membutuhkan yang dapat dengan cepat dicek ulang.

Saya mau men-tracking dan memastikan perkembangannya pada waktu-waktu tertentu. Seperti mingguan, bulanan, semesteran, tahunan. Dan yang terpenting dengan digital sekarang ini saya sering lupa. Maka, opsi yang saya punya adalah kembali manual dengan buku dan pensil/pulpen.

Saat itulah saya kembali dipertemukan dengan bullet journal. Saya sudah tahu tentang bullet journal ini dari Pinterest cukup lama. Tapi, ya cuma di pin saja biasanya karena lucu dan menarik. 

Kali ini saya mencoba serius memahami bagaimana penggunaannya. Apa saja yang diperlukan untuk membuatnya bisa disebut bullet journal. Termasuk apakah memang perlu itu adanya kehadiran doodle dan handlettering dalam bullet journal serta hal dekoratif lainnya. 

Per Januari 2021 saya memutuskan untuk mulai ber-bullet journal ria. Masih coba-coba berbagai macam layout dan ini itu sesuai kebutuhan. Karena ternyata memang bullet journal itu personal. Artinya, bullet journal saya dan orang lain akan sangat berbeda sesuai dengan tujuan dan kebutuhannya. 

Di bawah ini contoh dari halaman bullet journal saya. 


Tulisan saya berikutnya akan membahas khusus apa itu bullet journal, bagaimana memulainya dan bullet journal 2021 set up milik saya. Ditunggu, ya...



Tambahan nih, saya juga sempat membahas perihal produktif ini di podcast V.Note 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages