Misi 5: Panggung Ceria - Menemukan Aku yang Baru



Topik: Menemukan Aku yang Baru


Host: Kartika Eka Pratiwi
Operator: Rosita Komala Dewi

Profil Narasumber

Nama: Sukma Fitria Putri
Marital Status: Menikah
Anak: 2 
Pekerjaan: Dosen
Akun Instagram dan Youtube: Pembelajar Tangguh


Menjadi ibu adalah impian banyak perempuan, termasuk saya. Namun, menjalankan peran sebagai ibu tidaklah selalu mulus. Seperti yang dialami oleh Mba Sukma. Apa yang terjadi dengan beliau? Mari belajar dari pengalaman Mba Sukma untuk memaksimalkan peran keibuan kita.

Aku Bukanlah Aku yang Dulu

Setelah menikah dan memiliki dua anak dengan jarak berdekatan, Mba Sukma merasa dirinya tidaklah seperti dahulu. Beliau yang sebelumnya adalah pribadi yang enerjik, suka membuat orang lain termotivasi dan berani bermimpi terlihat bagai sosok yang berbeda. Menjadi sering marah-marah, emosi tidak terkendali, khawatir yang berlebihan sampai  pernah menangis histeris kepada orang tuanya dan meminta untuk dijelaskan bagaimana caranya menjadi seorang ibu.

Mba Sukma menjelaskan bahwa anak-anaknya adalah anak yang enerjik dan aktif. Pernah dalam setahun ada sekitar 14-16 orang yang membantu menjaga anak-anaknya dan tidak ada yang cocok. Termasuk orang tua. Pernah juga Mba Sukma membawa anak-anak ke kampus, ternyata bukannya fokus mengajar yang ada mahasiswa ikut bantu mengasuh.

Satu hal yang disadari oleh Mba Sukma dari ilmu parenting yang dipelajarinya, di mana jika anak masih sangat membutuhkan keberadaan ibunya maka ibulah yang harus mengurus anaknya sendiri. Tidak untuk didelegasikan kepada orang lain.

Menangkap "Warning"

Mba Sukma menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya. Di ranah publik beliau memang sudah terbiasa, tapi tidak dengan ranah domestik. Kondisi ini membuat dirinya cemas dan psikis menjadi terganggu. Bagaimana cara menenangkan anak-anak yang tantrum. Tidak tahu cara menenangkan diri saat khawatir muncul berlebihan. Oleh karena itu, beberapa ikhtiar keduniawian dilakukan. Mulai dari konsultasi ke psikiater, melakukan relaksasi, metaholistik, terapi taping, seminar, kulwap sampai kajian-kajian online diikuti.

Pada akhirnya, Allah menakdirkan sakit selama 6 hari dan perlu dirawat di rumah sakit pada Ramadhan tahun lalu. Selama bed rest, Mba Sukma menceritakan bahwa beliau lebih banyak menangis. Mencoba memahami apa yang terjadi dalam hidupnya. 

Kejadian ini menjadi titik balik Mba Sukma dalam menemukan dirinya yang baru. Beliau berdamai dengan episode yang dijalaninya. Menerima bahwa Allah ingin beliau beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu dan tentunya lebih dekat dengan Allah. 

Kita memang akan selalu diuji dari titik terendah kita, begitu kata beliau.

Bagaimana keadaan Mba Sukma saat ini?

Mba Sukma bercerita, terkadang masih juga sukan "bocor", maksudnya marah-marah. Tetapi, intensitasnya semakin berkurang dan lebih terkendali. 

Ada tiga hal yang dilakukan perihal mengurangi "kebocoran" tersebut:
  • Jika sedang lelah, Mba Sukma mengkomunikasikannya kepada pasangan. 
  • Jika sudah tersulut, maka beliau akan minta maaf
  • Membangun support sistem: mengevaluasi kondisi-kondisi apa saja yang suka memancing kebocoran tersebut, jika sudah terlihat tanda-tanda akan berubah menjadi "harimau betina" maka Mba Sukma memilih beristirahat dan memberi ruang untuk me time sejenak.

Untuk kepada anak-anak sendiri, Mba Suka akan mengkomunikasikannya, umi sedang tidak baik hatinya. Meminta anak-anaknua untuk main dulu atau jika tidak memungkinkan Mba Sukma akan memeluk anak-anaknya sambil meminta maaf.

Apa yang dilakukan jika sudah mau marah kembali?

  • Lebih banyak untuk tidak membuka mulut
  • Menarik diri
  • Manarik nafas
  • Istigfar dan minta pertolongan Allah
  • Meninggalkan anak-anak sejenak, namun tetap dalam pengawasan

Menulislah!

Hal lain yang dilakukan oleh Mba Sukma untuk mengatasi kondisinya adalah dengan menulis. Saat mumet, beliau curhat dalam bentuk tulisan yang kemudian menyembuhkan dan bertumbuh. Bahkan, Mba Sukma yang masih tetap bekerja sebagai dosen kini telah menerbitkan buku. Masya Allah...

Tidak ada yang sia-sia ya jika kita mau berusaha. 

Closing statement dari Mba Sukma untuk para ibu semua:

Akhirnya, aku bangkit menjadi pribadi yang bahagia dan berani bermimpi.
Muaranya ingin berharap surganya Allah.
Saya sudah bisa mulai tersenyum kembali.
Saya merasakan menemukan saya yang baru.
Saya yang penuh syukur,
Saya  yang penuh penerimaan skenario terbaik Allah.
Saya yang mau berdamai dengan episode kehidupan yang sudah digariskan.
Saya berhak bahagia dan seorang ibu memang harus bahagia.
Sehingga, optimalisasi perannya akan terasa.
Seorang ibu yang bahagia terlahir dari spiritual yang baik, perasaan yang baik dan pikiran yang baik.
Oleh karenanya, hal itu senantiasa diperjuangkan untuk tetap selaras.

Keluarga bahagia diawali dengan ibu yang bahagia.
Maka, kebahagiaan seorang ibu mutlak diperjuangkan. 

Wahai para ibu, tersenyumlah.
Karena senyummu kunci kebahagiaan diri.

Wahai para ibu, berbahagialah karena ribuan pahala disiapkan untukmu.

Wahai para ibu, jadilah ibu yang tangguh.
Jadilah ibu yang kebahagiaannya menembus langit,
yang membuat para bidadari cemburu padamu.

Wahai para ibu, nikmatilah setiap detik dengan keluarga,
tanpa mengabaikan peranmu di luar rumah.

Wahai para ibu, jadilah permata kebahagiaan keluarga.
Jadilah permata terindah yang kemilaunya menyinari alam semesta karena itu bekal kita menuju surga.


Bagaimana dengan Sahabat? Apakah mengalami hal yang sama atau ada orang terdekat juga yang mengalami hal serupa? Mari saling mendukung agar setiap ibu dapat memaksimalkan perannya dengan baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages