Sadar Penuh



2020 adalah tahun yang berat untuk saya dan hampir seluruh manusia. Dari 2020 saya belajar lebih mengenai "menjadi waras". Di mana saya tidak dibesarkan untuk menghadapi pandemi. Saya tidak dipersiapkan untuk merespon dengan baik situasi saat ini. 

Hal yang terjadi pada saya adalah emosi-emosi negatif yang membuat hampir putus asa. Belum lagi kehadiran orang-orang yang memiliki ketahanan diri rendah dengan kepanikan dan khawatiran berujung ketakutan. Segalanya yang tidak pasti, telah membuat hidup tak lagi warna-warni.

Naiknya isu mengenai kesehatan mental begitu menarik perhatian saya beberapa bulan terakhir. Rasanya jika saya membiarkan diri seperti ini terlalu lama, akan berdampak buruk pada diri sendiri, hubungan dengan suami dan hal lainnya. 

Saya mencoba memahami lebih jauh mengenai "mindfulness". Bagaimana menjadi tetap sadar penuh dalam menghadapi setiap kejadian dan tentunya untuk menjaga kewarasan. 


Di Instagram sendiri, "mindfulness" sedang naik daun. Banyak akun-akun yang bermunculan membahas betapa pentingnya kesehatan mental. Salah satunya adalah Tempo Institute, yang mengadakan workshop gratis dengan tema: Memaafkan 2020 dengan Mindfulness Writing bersama Mba Puspita Alwi, Co-Founder Sehat Jiwa dan Positive Psychology Practicioner

Kelas ini dapat dibilang menjadi salah dua pemicu utama saya bebenah diri. Satu sesi yang ngena banget adalah saat membahas "Arusku di 2020". Mba Puspita meminta peserta untuk menulis perasaan positif dan negatif yang dirasa selama setahun ini. Saat saya menuliskannya, dengan jujur, segala rasa saya tumpahkan di sana, sesak yang kerap hadir seolah luruh menguap bersama dengan huruf-huruf yang tertulis di kertas. 

Ah, saya harus lebih sering melakukannya. Begitu yang ada dipikiran saya. Semacam menemukan "aha momen" untuk mengurai kekusutan. Mba Puspita kemudian menambahkan, cara untuk tetap sadar penuh dalam situasi seperti ini salah satunya dengan menjurnal, apalagi menjurnal dengan tipe dekoratif, proses pengerjaannya dapat menjadi salah satu terapi. 

Suatu kebetulan, saat itu saya juga sedang mengikuti tantangan 5 hari menjurnal dengan tema Rekleksi 2020 di Instagram yang diadakan oleh Mba Anggun (Bridetalk ID) dan Mba Una (Naminauna Institut). Selama 5 hari, Mba Unda dan Mba Anggun melakukan Instalive pada pukul 21.00 WIB. Mereka menjurnal bersama seraya menjelaskan perihal pemantik refleksi hari itu. 

Hasil dari mengikuti tantangan ini memicu motivasi saya untuk melanjutkan menjurnal. Merutinkan lebih tepatnya. Sebagai rilis emosi-emosi yang hadir. Karena, pada akhirnya saya memahami bahwa menulislah yang saya dibutuhkan. 

Nyatanya memang benar bahwa menulis itu menyembuhkan.

Kedepannya, mungkin teman-teman tidak mendapati blog ini sistematis. Melainkan, hanya sakadar kumpulan kata-kata lupan ekspresi dari saya untuk memindahkan segala rasa dan apa yang ada di kepala. Agar lebih ringan diri ini menjalankan kehidupan.

Terima kasih sudah mau membacanya. Semoga tahun 2021, menjadi tahun yang baik untuk kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages