Journal Prompt for Depression: Prompt 5

 


Prompt 5: Write about something you’re looking forward too

Setelah lebih setahun menikah dan belum juga dikaruniakan momongan, memiliki anak telah menjadi hal yang begitu saya harapkan. Lebih tepatnya kini, berusaha kami rencanakan. Dengan tetap berdoa dan momohon kepadaNya.

Keinginan untuk memiliki anak ini mengilhamkan saya untuk membuat Program Kehamilan (Promil) versi saya sendiri. Dalam artian, di luar dari pemeriksaan medis. Saya mengkategorikan Promil ini menjadi: Berat badan ideal, menu makan, minuman sehat, keilmuan. Masing-masing bagian memiliki indikator tersendiri dan to do list yang saya tracker untuk dapat melihat perkembangannya. 

Saya memahami bahwa memiliki anak itu adalah takdir dari Allah. Begitu pun waktunya. Ada teman yang sudah sepuluh tahun menikah baru memiliki anak. Ada juga yang baru sepekan sudah hamil. Setiap orang memiliki linimasanya masing-masing. Begitu pun saya dan suami. Nah, dikarenakan kapannya itu yang belum diketahui saya berusaha untuk mempersiapkan diri ini sebaik mungkin. Agar ketika tiba waktunya saya diberi kehamilan, saya tidak gagap. Tidak lagi bingung apa yang harus dilakukan. Apalagi di masa pandemi seperti ini. Mulai dari periksa kehamilan sampai melahirkan perlu super duper hati-hati.

Melihat perkembangan zaman, lebih tepatnya akhir zaman ini secara keilmuan juga saya utamakan sekali. Tentang kehamilan saja, saya membuat daftar belajar mulai dari yang berhubungan dengan medis, bagaimana kehamilan dalam islam, bagaimana perkembangan otak anak, bagaima karaker dan watak, sampai tentang pola asuh dan mendidik mereka kelak. Semua itu, rasanya sudah harus saya mulai cicil belajar dari sekarang. Dan benar-benar syok saat mencoba menuliskan apa saja yang perlu saya pelajari sebagai seorang ibu. Sunggu, begitu banyak yang harus dikuasi. 

Sempat saya jiper. Apa iya saya bisa nanti menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya. Nyatanya, setelah saya telaah kembali, yang bikin jiper itu bukan tentang menjadi ibu terbaik. Melainkan karena ekspektasi saya adalah menjadi ibu yang sempurna. Di mana tentu saja itu tidak akan pernah terwujud. 

Pada akhirnya, apa yang tertera dalam program hamil saya itulah yang perlu disiapkan, dipelajari, tanpa perlu saya berekspektasi menjadi sempurna. Melainkan, melakukannya dengan sepenuh hati dan cinta yang berlandaskan pada keilmuan yang nyata, bukan katanya.

Selamat berjuang juga bagi teman-teman yang masih menunggu garis dua. Semoga Allah memudahkan segala urusan dan ikhtiar kita. Serta, menguatkan dalam masa penantiannya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages