Orientasi Kampung Komunitas: Aliran Rasa 3

By Serambi Jemma - 20.09



Main-main di Kampung Komunitas Ibu Profesional sudah hampir berakhir. Di babak ketiga ini, saya main Gerobak Sodor yang jadi bikin rindu sama permainan zaman saya kecil lainnya.

Oh, iya saya lupa menjelaskan apa sih Kampung Main Ibu Profesional itu. Ceritanya nggak bisa singkat, jadi saya tulis tersendiri dengan tajuk Saung Sambut Semai. Main-main ke sana setelah selesai baca ini, ya.

Oke, saya lanjut. Ngapain saja saya di arena Gerobak Sodor ini? Di sini saya disajikan dua kali pertemuan online via facebook live streaming yang membahas tentang kolaborasi dan Code of Conduct.

Dua buah topik yang sangat tepat untuk dibahas di Kelas Orientasi ini. Mengapa? 

Berkomunitas artinya siap bersama-sama dalam menjalankan beragam aktivitas. Tidak sendiri-sendiri. Berkolaborasi juga berarti menurunkan ego diri. Mau saling membantu dan mengisi.

Di Ibu Profesional ini, demografinya beragam. Ada yang ibu rumah tangga, tok. Ada juga yang ibu pekerja. Ada mahasiswa S1, S2 sampai kalangan profesional. Hal ini akan samgat rentan terjadi gesekan juga ego yang dimiliki tidak mampu diolah.

Berkolaborasi juga berimplikasi bagi saya pribadi, sebagai alaram bahwa saya tak perlu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Bahwa ada teman-teman lain yang akan siap membantu dan bekerja sama sesuai apa yang mereka bisa dan mereka sukai.

Sebagai anak pertama  dengan tiga adik perempuan saya terbiasa menjadi pemimpin, menentukan keputusan dan melakukan segalanya sendiri. Ini nih, berkolaborasi menjadi tantangan yang cukup berat. Tapi, bismillah... insya Allah semakin usia ini bertambah semakin bisa mengendalikannya.

Mengenai Code of Conduct atau dalam bahasa Indonesia disebut Pedoman Perilaku Bermartabat juga menjadi hal penting dalam berkomunitas. Saat ini, mudahnya berbagi dalam bentuk digital terkadang melenakan dan pada akhirnya membuat kita melupakan atau mengesampingkan banyak hal. 

Saya menekankan pada sebuah grup tertutup, seperti di Komunitas Ibu Profesional ini. Segala pembicaraan, materi dan sumber lainnya yang didapatkan di grup terbatas untuk member grup saja. Tidak untuk disebarluaskan kepada khalayak ramai di luar anggota.

Kenapa sih, kan bagus materinya? Karena bisa jadi, apa yang disebarkan dapat disalah artikan oleh penerima karena yang diterima hanya tangkapan layar atau bentuk file yang tanpe penjelasan utuh.

Sudah banyakkan kejadian seperti video yang dipotong setengah-setengah, kemudian akhirnya menimbulkan masalah. Nah, seperti itu kiranya. Konteks yang keseluruhan tidak diterima dengan baik atau sepotong-sepotong sehingga dapat menjadi bola api bagi si penyebar informasi itu sendiri bahkan bisa juga berakibat tidak baik kepada komunitas.

Jujur saja, banyak saya masih menemukan orang-orang yang memberikan resume kajian tertutup disosmednya. Memang baik tujuannya, tapi saya melihatnya seperti ini: sesuatu yang sifatnya tertutup artinya ditujukan untuk kalangan itu saja. Berbeda dengan yang memang di share terbuka via platform seperti Youtube. Maka, jika kita sebarkan kembali secara utuh memang sang pemilik video mau memberikannya kepada pihak luar seluas-luasnya.

Semoga, di Komunitas Ibu Profesional ini saya dan member lainnya dapat terus berpegang teguh dengan Code of Conduct yang sudah ditentukan serta dapat terus berkolaborasi menciptakan Ibu-Ibu Indonesia yang Profesional dalam menjalankan perannya.

Serambi Jemma

#aliranrasa3

#babakmain3orientasi

#KampungMainKomunitas

#Komunitasibuprofesional

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments